Makalah Penggunaan IPv6 sebagai
Solusi Pengganti IPv4
Karya :
Nama :
Kumalasari Rachma P.
Prodi : Teknik Informatika 5
Nim : 1321180149
Akademi
Komunitas Negeri Bojonegoro
Tahun
Akademik 2013- 2014
KATA PENGANTAR
Puji syukur
kepada Allah SWT penulis ucapkan karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya saya dapat mengikuti
kegiatan perkuliahan di AKN Bojonegoro hingga
menyelesaikan makalah ini dengan baik dan lancar. Judul makalah ini adalah “Penggunaan
IPv6 sebagai Solusi Pengganti IPv4”.Makalah ini disusun sebagai tugas matakuliah Jaringan Komputer yang
diampuoleh Bp.Dony Abdul Fatah. di AKN Bojonegoro.
Pada kesempatan ini penulis
ingin mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
a)
Ibu, bapak, dan Kakak
saya yang selalu memberikan
dukungannya dan mendoakan saya selama kuliah ini di AKN Bojonegoro
b)
Bp.Dony Abdul Fatah. yang selama
ini telah memberikan ilmunya selama perkuliahan hingga
penyusunan makalah ini.
c)
Teman – teman mahasiswa Teknik Informatika 5, khususnya angkatan 2013.
d)
Seluruh pihak yang
telah memberikan bantuan dan
dukungan dalam
penyusunan
makalah ini dari awal hingga akhir.
Semoga
makalah ini dapat bermanfaat dan memberikan sedikit informasi sehingga dapat
digunakan sebagaimana mestinya. Untuk itu penulis menerima dengan baik segala
kritik dan saran. Akhir kata penulis memohon maaf apabila ada kata – kata yang
tidak berkenan. Terima kasih.
Bojonegoro,April 2014
KumalaSari Rachma P.
DAFTAR ISI
BAB I
PENDAHULUAN
Perkembangan
teknologi jaringan komputer
dewasa ini semakin pesat seiring
dengan kebutuhan masyarakat akan layanan yang memanfaatkan jaringan komputer.
Pada sistem jaringan komputer, protokol merupakan suatu bagian yang paling penting.
Protokol jaringan yang umum digunakan
adalah IPv4. Akan tetapi protokol
telah berumur lebih dari
20 tahun masih terdapat
beberapa kekurangan dalam menangani jumlah
komputer dalam suatu jaringan
yang
semakin
kompleks. Telah dikembangkan protokol jaringan baru, yaitu IPv6 yang merupakan
solusi dari masalah diatas. IPv6 menawarkan fitur dan fungsionalitas
yang lebih dari IPv4
seperti ruang pengalamatan yang
jauh lebih besar, fitur
keamanan IPSec, penanganan
lalu lintas multimedia di
internet, dan lain-lain. Namun,
protokol baru ini belum banyak
diimplementasikan pada jaringan-jaringan di dunia.
B. Perumusan Masalah
Setelah
IPv4 sukses penggunaannya oleh
para pengguna internet, kemudian timbul suatu
permasalahan baru dimana IPv4 hanya dapat menampung para
pengguna internet sebanyak 4,3
milyar saja, sedangkan angka
ini diperkirakan akan melonjak
kembali beberapa tahun kedepan.
Masalah yang paling besar pada Internet Protocol saat ini
adalah perputaran kecepatan untuk mencapai suatu
titik alamat jaringan yang
tersedia. IPv4 mempertimbangkan sekitar 2
32 atau 4.294.967.296 alamat, sebagian besar kesalahan pada
alokasi awal, tanpa meninggalkan ruang
untuk pengembangan. IP versi
baru yaitu IPv6 .menawarkan
suatu pemecahan yang lebih
permanen, yaitu sekitar 2
128 atau
40.282.366.920.938.463.463.374.607.431.768.211.456 alamat.
Berdasarkan
hal itulah kemudian dirancang suatu protokol internet baru yang dinamakan
Internet Protocol next generation (IPng) pada tahun 1996 yang
penggunaannya secara bertahap akan menggeser penggunaan dari IPv4 yang
telah sukses sebelumnya. IPng atau disebut juga IPv6 sendiri adalah suatu
protokol layer ketiga terbaru yang diciptakan untuk menggantikan IPv4 atau yang
sering dikenal sebagai IP. Alasan utama dari penciptaan Internet Protocol V
ersion 6 ini adalah untuk mengoreksi masalah
pengalamatan pada versi 4
(IPv4). Karena kebutuhan akan alamat internet semakin banyak, maka
IPv6 diciptakan dengan tujuan untuk memberikan pengalamatan yang lebih
banyak dibandingkan dengan IPv4, sehingga perubahan pada IPv6 masih
berhubungan dengan pengalamatan IP sebelumnya. Perubahan
terbesar pada IPv6 adalah terdapat pada
header, yaitu peningkatan jumlah alamat dari 32 bit (IPv4) menjadi 128
bit (IPv6).
C. Tujuan Penulisan Makalah
Tujuan umum
dari penyusunan makalah ini adalah untuk memenuhi tugas pada matakuliah Jaringan
Komputer di AKN Bojonegoro. Adapun tujuan
khusus yang hendak dicapai pada makalah ini, antara
lain :
a)
Mengimplementasikan penggunaan IPv6
sebagai solusi dari permasalahan
IPv4 dalam menangani
jumlah komputer dalam suatu jaringan yang semakin
kompleks
dari tahun ke tahun.
b)
Penggunaan fungsi “Otomatisasi Setting” untuk pengelolaan dan pengaturan alamat
IP di suatu jaringan komputer sebagai salah satu kelebihan penggunaan IPv6
dibandingkan IPv4.
c)
IPv6 mendukung penyusunan alamat IP secara terstruktur dan menyediakan
kemampuan routing baru yang tidak terdapat pada IPv4.
d)
Kelengkapan IPv6 dengan mekanisme penggunaan alamat secara
lokal yang memungkinkan terwujudnya instalasi secara Plug
& Play, serta menyediakan platform bagi cara baru pemakaian Internet,
seperti dukungan terhadap aliran data secara real-time,
pemilihan provider, mobilitas host, maupun end-to-end
security.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Konsep Dasar Protokol
Protokol
dapat dimisalkan sebagai penerjemah dua orang yang berbeda bahasa ingin
berkomunikasi. Protokol internet yang pertama kali dirancang pada awal tahun
1980-an. Akan tetapi pada saat itu, protokol tersebut hanya digunakan untuk
menghubungkan beberapa node saja. Baru pada awal tahun 1990-an mulai disadari
bahwa internet mulai tumbuh ke seluruh dunia dengan pesat. Sehingga
banyak bermunculan protokol
internet. Sehingga disadari bahwa
dibutuhkan sebuah protokol internet yang standar, yaitu OSI (Open System
Interconnection). Tetapi pada perkembangannya, TCP/IP menjadi
standar de facto yaitu standar yang diterima karena
pemakaiannya secara sendirinya semakin berkembang.
1. TCP
(Transmission Control Protocol)
Transmission
Control Protocol atau yang sering
kali disingkat menjadi TCP berfungsi untuk melakukan
transmisi data per-segmen (paket data dipecah dalam jumlah yang sesuai dengan
besaran paket kemudian dikirim satu persatu hingga selesai).
Agar pengiriman data sampai
dengan baik, maka pada setiap
packet pengiriman, TCP akan
menyertakan nomor seri
(sequence number). Adapun komputer tujuan
yang menerima paket tersebut harus mengirim balik
sebuah sinyal acknowledge dalam
satu periode yang ditentukan.
Bila pada waktunya komputer tujuan belum juga memberikan
acknowledge, maka terjadi time out yang menandakan pengiriman packet
gagal dan harus diulang kembali. Model protokol TCP disebut sebagai connection
oriented protocol.
2. IP
(Internet Protocol)
IP (Internet
Protocol) atau alamat IP dapat disebut dengan kode pengenal komputer pada
jaringan merupakan komponen vital pada internet, karena tanpa alamat IP
seseorang tidak akan dapat terhubung ke internet. Penggunaan alamat IP dikoordinasi
oleh lembaga sentral internet
yang dikenal dengan IANA, salah
satunya adalah NIC (Network Information Center).
IP versi 6
(IPv6) adalah protokol internet versi baru yang didesain sebagai pengganti dari
Internet protocol versi 4 (IPv4) yang didefinisikan dalam RFC 791.
IPv6 yang memiliki kapasitas
alamat (address) raksasa (128
bit), mendukung penyusunan alamat
secara terstruktur, yang
memungkinkan Internet terus berkembang dan menyediakan
kemampuan routing baru yang tidak terdapat pada IPv4. IPv6 memiliki tipe
alamat anycast yang dapat digunakan untuk pemilihan route secara
efisien. Selain itu IPv6 juga dilengkapi oleh mekanisme penggunaan alamat
secara local yang memungkinkan terwujudnya instalasi secara Plug&Play,
serta menyediakan platform bagi cara baru pemakaian Internet, seperti dukungan
terhadap aliran datasecara real-time, pemilihan
provider, mobilitas host, end-to-end security,
maupun konfigurasi otomatis.
Otomatisasi
berbagai setting
/ Stateless-less
auto-configuration (plug&play). Alamat pada
IPv4 pada dasarnya statis
terhadap host. Biasanya diberikan secara berurut pada host.
Memang saat ini hal di atas bisa dilakukan secara
otomatis dengan menggunakan
DHCP (Dynamic Host Configuration
Protocol), tetapi hal tersebut
pada IPv4 merupakan fungsi
tambahan saja, sebaliknya pada IPv6 fungsi untuk men-setting secara
otomatis disediakan secara standar dan merupakan default-nya. Pada
setting otomatis ini terdapat dua cara tergantung dari penggunaan address,
yaitu setting otomatis stateless dan statefull.
1. Setting
Otomatis Statefull
Cara
pengelolaan secara ketat dalam hal range IP address yang diberikan
pada host dengan
menyediakan server untuk
pengelolaan keadaan IP address, dimana cara
ini hampir mirip dengan cara
DHCP pada IPv4. Pada saat
melakukan setting secara otomatis, informasi
yang dibutuhkan antara router,server dan
host adalah ICMP (Internet Control Message Protocol) yang telah
diperluas. Pada ICMP dalam IPv6 ini, termasuk pula
IGMP (Internet Group management Protocol)
yang dipakai pada multicast pada IPv4.
2. Setting
Otomatis Stateless
Pada
cara ini tidak perlu
menyediakan server untuk pengelolaan dan
pembagian IP address, hanya
men-setting router saja dimana
host yang telah tersambung di jaringan dari router yang
ada pada jaringan tersebut memperoleh prefix dari address dari jaringan
tersebut. Kemudian host menambah pattern bit yang diperoleh dari
informasi yang unik terhadap host, lalu membuat IP address sepanjang 128 bit
dan menjadikannya sebagai IP address dari host tersebut. Pada informasi unik
bagi host ini, digunakan antara lain address MAC dari network interface.
Pada setting otomatis stateless ini dibalik kemudahan pengelolaan, pada
Ethernet atau FDDI karena perlu memberikan minimal 48 bit (sebesar address
MAC) terhadap satu jaringan, memiliki
kelemahan yaitu efisiensi penggunaan alamat yang buruk.
1. Unicast
(One-to-one)
Digunakan
untuk komunikasi satu lawan satu, dengan menunjuk satu host.
Pada alamat
unicast ini terdiri dari :
1.
Global, alamat yang digunakan misalnya untuk alamat provider atau
alamat geografis.
2.
Link Local Address adalah alamat yang dipakai di dalam satu link saja. Yang
dimaksud link di sini adalah jaringan lokal yang saling tersambung pada satu
level. Alamat ini dibuat
secara otomatis oleh host
yang belum mendapat alamat global, terdiri dari 10+n bit
prefix yang dimulai dengan “FE80″ dan field sepanjang 118-n bit yang
menunjukkan nomor host. Link Local Address digunakan pada pemberian alamat
IP secara otomatis.
3.
Site-local, alamat yang setara dengan private address, yang dipakai terbatas di
dalam site saja. Alamat ini dapat diberikan bebas, asal unik di dalam site
tersebut, namun tidak bisa mengirimkan paket dengan tujuan alamat ini di luar
dari site tersebut.
4.
Kompatibel.
2.
Multicast (One-to-many)
Yang
digunakan untuk komunikasi satu lawan banyak dengan menunjuk host
dari group. Multicast address ini pada IPv4 didefinisikan
sebagai kelas D, sedangkan pada IPv6 ruang
yang 8 bit pertamanya
di mulai dengan “FF” disediakan untuk
multicast address. Ruang ini kemudian dibagi-bagi lagi untuk menentukan
range berlakunya. Kemudian blockcast
address pada IPv4 yang alamat bagian hostnya
didefinisikan sebagai “1″, pada IPv6 sudah termasuk di dalam multicast address
ini. Blockcast address untuk komunikasi dalam segmen yang sama yang dipisahkan
oleh gateway, sama halnya dengan multicast address 10 dipilih berdasarkan range
tujuan.
3. Anycast
Yang menunjuk
host dari group, tetapi paket yang dikirim hanya pada satu host saja.
Pada alamat jenis ini, sebuah alamat diberikan pada
beberapa host, untuk mendefinisikan kumpulan node. Jika ada paket yang dikirim
ke alamat ini, maka router akan mengirim
paket tersebut ke host
terdekat yang memiliki Anycast address sama. Dengan
kata lain, pemilik paket menyerahkan pada router tujuan yang paling “cocok”
bagi pengiriman paket tersebut. Pemakaian Anycast ini misalnya
terhadap beberapa server yang memberikan layanan seperti DNS (Domain Name
Server). Dengan memberikan Anycast alamat Address sama pada server-server
tersebut, jika ada paket yang dikirim oleh client ke alamat ini, maka
router akan memilih server
yang terdekat dan mengirimkan
paket tersebut ke server tersebut. Sehingga, beban
terhadap server dapat terdistribusi secara merata. Bagi
anycast ini tidak disediakan ruang khusus. Jika
terhadap beberapa host diberikan sebuah
alamat yang sama, maka
alamat tersebut dianggap sebagai Anycast
Address.
Model
x:x:x:x:x:x:x:x dimana ‘x‘ berupa
nilai hexadesimal dari 16 bit
porsi alamat, karena ada 8 buah ‘x‘ maka jumlah totalnya ada 16 * 8 = 128 bit.
Contohnya adalah :
FEDC : BA98
: 7654 : 3210 : FEDC : BA98 : 7654 : 3210
Jika format
pengalamatan IPv6 mengandung kumpulan group 16 bit alamat, yaitu
‘x‘, yang
bernilai 0 maka dapat direpresentasikan sebagai ‘::’. Contohnya adalah :
FEDC : 0 : 0
: 0 : 0 : 0 : 7654 : 3210
dapat
direpresentasikan sebagai
FEDC :: 7654
: 3210
Dan
0:0:0:0:0:0:0:1 dapat direpresentasikan
sebagai ::1
Model
x:x:x:x:x:x:d.d.d.d dimana ‘d.d.d.d’
adalah alamat IPv4 semacam
167.205.25.6
yang digunakan untuk automatic tunnelling. Contohnya adalah :
0:0:0:0:0:0:167.205.25.6 atau ::167.205.25.6
0:0:0:0:0:ffff:167.205.25.7 atau :ffff:167.205.25.7
Jadi jika
sekarang mengakses alamat di internet misalnya 167.205.25.6 pada
saatnya nanti format tersebut
akan digantikan menjadi semacam
::ba67:080:18. Sebagaimana IPv4, IPv6 menggunakan bitmask untuk keperluan
subnetting yang direpresentasikan
sama seperti representasi prefix-length
pada teknik CIDR yang digunakan pada IPv4, misalnya :
3ffe:10:0:0:0:fe56:0:0/60
menunjukkan
bahwa 60 bit awal merupakan bagian network bit. Jika pada IPv4 mengenal
pembagian kelas IP menjadi kelas A, B, dan C maka pada IPv6 pun dilakukan
pembagian kelas berdasarkan fomat prefix (FP) yaitu format bit awal alamat.
Misalnya :
3ffe:10:0:0:0:fe56:0:0/60 maka jika diperhatikan 4 bit awal yaitu hexa ‘3’
didapatkan format prefixnya untuk 4 bit awal adalah 0011 (yaitu nilai ‘3’ hexa
dalam biner).
Ada beberapa
kelas IPv6 yang penting yaitu :
1.
Aggregatable Global Unicast Addresses : termasuk di dalamnya adalah alamat
IPv6 dengan
bit awal 001.
2.
Link-Local Unicast Addresses :
termasuk di dalamnya adalah
alamat IPv6
dengan bit
awal 1111 1110 10.
3.
Site-Local Unicast Addresses : termasuk
di dalamnya adalah alamat IPv6
dengan bit
awal 1111 1110 11.
4.
Multicast Addresses : termasuk di dalamnya adalah alamat IPv6 dengan bit
awal 1111
1111.
Pada
protokol IPv4 dikenal alamat-alamat khusus semacam 127.0.0.1 yang
mengacu
ke localhost, alamat ini
direpresentasikan sebagai 0:0:0:0:0:0:0:1
atau ::1
dalam protokol IPv6. Selain itu pada IPv6 dikenal alamat khusus lain
yaitu
0:0:0:0:0:0:0:0 yang dikenal sebagai unspecified address yang tidak boleh
diberikan
sebagai pengenal pada suatu interface. Secara garis besar format unicast
address
adalah sebagai berikut :
Interface ID
digunakan sebagai pengenal unik masing-masing host dalam satu
subnet. Dalam penggunaannya
umumnya interface ID berjumlah
64 bits dengan format IEEE EUI-64. Jika digunakan
media ethernet yang memiliki 48 bit MAC
address maka pembentukan interface ID dalam format IEEE EUI-64
adalah
sebagai berikut :
Misalkan MAC
address-nya adalah 00:40:F4:C0:97:57
1.
Tambahkan 2 byte yaitu 0xFFFE
di bagian tengah
alamat tersebut
sehingga
menjadi 00:40:F4:FF:FE:C0:97:57
2.
Komplemenkan (ganti bit 1 ke 0 dan sebaliknya) bit kedua dari belakang pada
byte awal alamat yang terbentuk, sehingga yang dikomplemenkan adalah ‘00’
(dalam hexadesimal) atau ‘00000000’ (dalam biner) menjadi ‘00000010’
atau ‘02’ dalam hexadesimal.
3.
Didapatkan interface
ID dalam
format IEEE
EUI-64 adalah 0240:F4FF:FEC0:9757.
Di bawah ini
adalah tabel perbandingan antara IPv4 dan IPv6 :
G.
Struktur Paket Data pada IPv6
Dalam
men-design header paket ini,
diupayakan agar cost atau nilai
pemrosesan header menjadi kecil untuk mendukung komunikasi data yang
lebih real time. Misalnya, alamat awal dan akhir menjadi dibutuhkan pada
setiap paket. Sedangkan pada header
IPv4 ketika paket
dipecah-pecah, ada field untuk menyimpan
urutan antar paket. Namun field tersebut tidak terpakai ketika paket tidak
dipecah-pecah. Header pada Ipv6 terdiri dari dua jenis, yang pertama, yaitu
field yang dibutuhkan oleh setiap paket disebut header dasar, sedangkan yang
kedua yaitu field yang tidak selalu diperlukan pada packet disebut header
ekstensi, dan header ini didifinisikan terpisah dari header dasar. Header
dasar selalu ada pada setiap packet, sedangkan header tambahan
hanya jika diperlukan
diselipkan antara header dasar
dengan data. Header tambahan, saat ini
didefinisikan selain bagi penggunaan ketika packet dipecah, juga
didefinisikan bagi fungsi security
dan lain-lain. Header tambahan
ini, diletakkan setelah header dasar, jika dibutuhkan beberapa header, maka
header ini akan disambungkan berantai dimulai dari header dasar dan berakhir
pada data. Router hanya perlu
memproses header yang terkecil
yang diperlukan saja, sehingga
waktu pemrosesan menjadi lebih
cepat. Hasil dari perbaikan
ini, meskipun ukuran header dasar membesar dari 20 bytes menjadi 40 bytes namun
jumlah field berkurang dari 12 menjadi 8 buah saja.
Perubahan
dari IPv4 ke IPv6 pada dasarnya
terjadi karena beberapa
hal
yang dikelompokkan dalam kategori berikut :
1. Kapasitas
Perluasan Alamat
IPv6
meningkatkan ukuran dan jumlah alamat yang mampu didukung oleh IPv4 dari 32 bit
menjadi 128bit. Peningkatan kapasitas alamat ini digunakan untuk
mendukung peningkatan hirarki
atau kelompok pengalamatan, peningkatan
jumlah atau kapasitas alamat yang dapat dialokasikan dan diberikan pada
node dan mempermudah konfigurasi alamat pada node sehingga dapat
dilakukan secara
otomatis.
Peningkatan skalabilitas juga dilakukan pada routing multicast dengan
meningkatkan cakupan dan jumlah
pada alamat multicast. IPv6
ini selain meningkatkan jumlah kapasitas alamat yang dapat
dialokasikan pada node juga mengenalkan jenis
atau tipe alamat baru, yaitu
alamat anycast. Tipe alamat anycast ini
didefinisikan dan digunakan untuk mengirimkan paket ke salah satu dari kumpulan
node.
2.
Penyederhanaan Format Header
Beberapa
kolom pada header IPv4
telah dihilangkan atau dapat
dibuat sebagai header pilihan. Hal ini digunakan untuk mengurangi biaya
pemrosesan hal-hal yang umum pada penanganan paket IPv6 dan membatasi biaya
bandwidth pada header IPv6. Dengan demikian, pemerosesan header pada paket IPv6
dapat dilakukan secara efisien.
3. Option
dan Extension Header
Perubahan
yang terjadi pada header-header
IP yaitu dengan adanya pengkodean
header Options (pilihan) pada
IP dimasukkan agar lebih efisien
dalam penerusan paket (packet
forwarding), agar tidak terlalu
ketat dalam pembatasan panjang header pilihan yang terdapat dalam
paket IPv6 dan sangat fleksibel/dimungkinkan untuk mengenalkan header pilihan
baru pada masa akan datang.
4. Kemampuan
Pelabelan Aliran Paket
Kemampuan
atau fitur baru ditambahkan
pada IPv6 ini adalah
memungkinkan pelabelan paket
atau pengklasifikasikan paket yang
meminta penanganan khusus, seperti kualitas mutu layanan tertentu
(QoS) atau real-time.
5.
Autentifikasi dan Kemampuan Privasi
Kemampuan
tambahan untuk mendukung autentifikasi, integritas data dan data penting juga
dispesifikasikan dalam alamat IPv6. Perubahan terbesar pada IPv6 adalah
perluasan IP address dari 32 bit pada IPv4 menjadi 128 bit.128 bit ini adalah
ruang address yang kontinyu dengan menghilangkan konsep kelas. Selain itu juga
dilakukan perubahan pada cara penulisan IP address. Jika pada IPv4 32 bit
dibagi menjadi masing-masing 8 bit yang dipisah kan dengan “.” dan di tuliskan
dengan angka desimal, maka
pada IPv6, 128 bit
tersebut dipisahkan menjadi masing-masing
16 bit yang tiap
bagian dipisahkan dengan “:”dan
dituliskan dengan hexadesimal. Selain
itu diperkenalkan pula struktur
bertingkat agar pengelolaan routing menjadi mudah. Pada CIDR
(Classless Interdomain Routing) table routing diperkecil dengan menggabungkan
jadi satu informasi routing dari sebuah organisasi.
Untuk
mengatasi kendala perbedaan antara IPv4 dan IPv6 serta menjamin
terselenggaranya komunikasi antara pengguna IPv4
dan pengguna IPv6, maka dibuat suatu metode
Hosts – dual stack serta
Networks – Tunneling pada perangkat jaringan,
misalnya router dan server .
Jadi setiap
router menerima suatu paket, maka router akan memilah paket tersebut untuk
menentukan protokol yang digunakan, kemudian router tersebut akan meneruskan ke
layer diatasnya.
IPv4 yang
merupakan pondasi dari Internet telah hampir mendekati batas akhir
dari kemampuannya, dan IPv6
yang merupakan protokol
baru telah dirancang untuk
dapat menggantikan fungsi IPv4.
Motivasi utama untuk mengganti IPv4 adalah karena
keterbatasan dari panjang addressnya yang hanya 32 bit saja serta tidak mampu
mendukung kebutuhan akan komunikasi yang aman, routing
yang fleksibel maupun
pengaturan lalu lintas data.
Keunggulan IPv6 dibandingkan
dengan IPv4 diantaranya yaitu
setting otomatis stateless dan statefull.
Kemudian, dasar migrasi
perubahan dari Ipv4
ke Ipv6 diantaranya kapasitas perluasan alamat,
penyederhanaan format header, option dan extension header,
kemampuan pelabelan aliran paket
serta autentifikasi dan kemampuan
privasi. Untuk mengatasi
kendala perbedaan
antara IPv4
dan IPv6 serta
menjamin terselenggaranya komunikasi antara
pengguna IPv4 dan pengguna IPv6, maka dibuat suatu metode Hosts – dual
stack serta Networks – Tunneling pada hardware jaringan, misalnya
router dan server .
1.
Address space IPv6 adalah
sebuah sumber daya publik
yang harus diatur dengan
hati-hati sehubungan dengan
kepentingan internet jangka panjang.
Manajemen address space yang bertanggung jawab mencakup penyesuaian
seperangkat tujuan yang kadang bersifat kompetitif.
2.
Walaupun IPv6 menyediakan pool address space yang sangat besar, kebijakan
address sebaiknya menghindari
praktik yang sia-sia dan
tidak perlu. Permohonan address space sebaiknya
didukung dengan dokumentasi yang sesuai dan
penimbunan address yang tidak terpakai sebaiknya dihindari.
3.
Setiap delegasi dan/atau alokasi
address space harus menjamin keunikan
universal. Ini merupakan
persyaratan mutlak guna
menjamin setiap host publik dapat diidentifikasikan
secara unik di internet.
1.
Irvan Nasrun. 2005. “Mengenal Internet Protokol Masa Depan”. Majalah
CHIP Spesial
Networking, halaman 6.
2.
http://www.ipv6forum.com diakses 24 Desember 2008.
3.
http://www.ipv6.org diakses 24 Desember 2008.
4.
http://www.ipv6.research.microsoft.com diakses 24 Desember 2008.
5.
Rahmat Rafiudin. 2005. “Ipv6 Addressing”. Jakarta : Gramedia.
6.
R. Mohamad Dikshie Fauzie. 2003. “Pengantar IPv6 dan Implementasinya
2008.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar